Rabu, 14 September 2011

Daur Ulang Solusi Krisis Air Bersih

Maraknya kegiatan industri di Jakarta mengakibatkan cadangan air tanah menipis. Eksploitasi air tanah yang berlebihan mengakibatkan terjadinya intrusi air laut dan penurunan permukaan tanah akibat kosongnya sungai-sungai bawah tanah.

Beberapa cara mengatasi krisis air seperti reboisasi hutan gundul dan penyuntikan air pada sungai-sungai kering di bawah tanah pada musim hujan telah dilakukan. Namun, hal ini belum dapat menyelesaikan masalah karena cadangan air tanah tetap tidak akan dapat terpenuhi selama eksploitasi air tanah yang dilakukan pihak industri tetap berlangsung.
Selain itu masalah pengelolaan sumber daya air yang masih berorientasi pada sisi penyediaan, menjadi alasan berikutnya. Belum lagi masalah borosnya pemakaian air, karena rendahnya efisiensi pemakaian air, baik di sektor pertanian, industri maupun domestik. Dan yang terakhir adalah masalah rendahnya partisipasi masyarakat mengenai hal iniLimbah cair yang mencemari air tanah menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air.


Tidak hanya limbah yang dihasilkan pabrik tetapi limbah rumah tangga turut mempengaruhi turunnya kualitas air tanah.Sungguh memprihatinkan tingkat pencemaran air di Ibu Kota. Berdasarkan hasil pemeriksaan Suku Dinas Kesehatan DKI Jakarta, hanya 74 persen air yang memenuhi persyaratan fisik kimia dan sekitar 43 persen yang memenuhi persyaratan bakteriologis. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar air bersih di Jakarta telah tercemar.Dalam diskusi Greentalk 89.2 FM Green Radio, Kamis (2/4/09), Nila Ardhiani dari Amarta Institute menegaskan “Kualitas air tanah di Jakarta masih sangat buruk, pencemaran ecoli masih banyak sekali terutama dari limbah rumah tangga yang cukup parah. Dari hasil penelitian Bappenas 2007 ditemukan lebih dari 75 % air tanah Jakarta tercemar bakteri ecoli”.

Kualitas air yang buruk ini juga disebabkan penyedotan air tanah berlebihan.Menurut Nila, limbah rumah tangga menjadi masalah yg serius. “karena rumah-rumah penduduk sempit, jarak antara sumber air dengan septitanknya kurang dari 10 m sehinga air tercemar oleh limbah mereka sendiri. Di kalangan miskin perkotaan masalah ini serius” tegasnya.Daur Ulang Sebagai SolusiPuluhan tahun lalu, air merupakan sumber daya alam yang murah. Mudah didapat bahkan dalam jumlah tidak terbatas. Kini situasinya sudah berubah. Setiap musim kemarau, warga Ibu Kota mengeluh kesulitan mendapatkan air tanah. Sumur kering.

Situasi itu memaksa pemerintah menerapkan aturan daur ulang limbah cair menjadi air baku. Bila diterapkan secara menyeluruh, strategi tersebut akan menekan penggunaan air tanah. Kebutuhan air generasi berikutnya pun tetap terpelihara.Proses daur ulang limbah tampaknya menjadi salah satu solusi efektif untuk mengatasi krisis air bersih. Salah satu cara pengolahan air limbah, khususnya limbah domestik yang ramah lingkungan adalah membrane bioreactor (MBR). Sistem yang tergolong baru diterapkan itu menggunakan unsur-unsur biologi untuk menggantikan unsur kimiawi yang selama ini digunakan.


Pada sistem itu, reaktor biologi diintegrasikan dengan ultrafiltration, yakni sejenis selaput penyaringan. Sistem BMR tidak membutuhkan desinfektan atau penggunaan bahan kimia untuk menurunkan atau membunuh mikroorganisme karena bakteri patogen sudah tereliminasi dan nitrogen turun secara efektif.“Air limbah industri dihilangkan kandungan organiknya dulu, kemudian disaring. Diharapkan hasil saringan ini memenuhi standar” jelas Winton, Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung yang dihubungi Green Radio lewat telepon. Semua air limbah bisa didaur ulang tergantung teknologi membrane.


Dengan teknologi ini saringan di level molekul akan menyaring semua kotoran, bakteri virus hingga yang dihasilkan hanya air.Menurut penjelasan Winton teknologi membrane ini sudah dikembangkan secara massal, dan sangat ekonomis digunakan di daerah minus air, daerah kering, bahkan di Jakarta. Air hasil teknologi membrane ini sangat ideal untuk kebutuhan mandi-cuci. Tetapi untuk air minum kurang baik.

Disinggung soal perusahaan harus memiliki pengolahan limbah, Winto menegaskan perusahaan sudah seharusnya memiliki pengolahan limbah sesuai amdal (analisis mengenai dampak lingkungan), tinggal meningkatkan teknologi sehingga hasil proses pengolahan limbah bisa didaur ulang.Air Limbah IndustriBadan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI sudah membuat aturan daur ulang limbah cair menjadi air baku dan menjadikan bagian dalam izin amdal. Untuk tahap awal, kewajiban mendaur ulang air hanya diperuntukkan bagi setiap hotel dan apartemen yang mengajukan izin baru.Tujuan kebijakan tersebut untuk mengurangi penyedotan air tanah dalam. Seperti diketahui, tanah di sejumlah lokasi di Jakarta ambles hingga dua meter dalam 20 tahun terakhir. Untuk itu perlu perusahaan mengembangkan pendaur ulangan air.Stefanus Ridwan, Ketua Dewan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, tentang pengelolaan air limbah di pusat-pusat perbelanjaan, menjelaskan, “Kita punya SPT.

Semua air limbah terutama dari restoran masuk ke SPT, di sana diolah. Air yang sudah bersih kemudian dibuang atau dipakai kembali”.Harga air yang mahal menjadi salah satu faktor pendorong pusat-pusat perbelanjaan mengelola kembali air limbahnya untuk digunakan kembali seperti menyiram tanaman.Lebih lanjut Ridwan menjelaskan, pengadaan instalasi daur ulang air tidak perlu diwajibkan kepada pengelola pusat perbelanjaan, karena mereka sudah sadar “Beberapa gedung sekarang ini sudah menggunakan alat penyaring, dan hasil penyaringan bisa digunakan untuk membersihkan filler dan menyiram tanaman.

Hanya yang belum lazim hasil penyaringan digunakan untuk air minum dan untuk menyuci. Dengan harga air yang semakin tinggi, saya kira pusat-pusat perbelanjaan pasti mempertimbangkan pengelolaan, tetapi belum bisa 100%” tutur Ridwan.Edukasi MasyarakatPenghematan dengan penggunaan air daur ulang ini ternya cukup signifikan. Seperti yang disampaikan Ridwan penghematan bisa mencapai Rp 4000 per meter kubik. Walaupun penggunaan air daur ulang belum bisa memenuhi kebutuhan air tanah bagi berbagai pusat perbelanjaan atau bangunan lainnya, minimal sudah bisa menutupi sekitar 65 % kebutuhan air mereka.Gerakan daur ulang air ini perlu diprioritaskan. Menurut Nila, perlu edukasi ke masyarakat, penyadaran bahwa limbah rumah tangga jika dibuang ke saluran umum sangat tidak bagus. Untuk mempopulerkan gerakan ini perlu usaha serius dari pemerintah. “Kalo pemerintah serius untuk berkampaye saya kira rumah tangga bisa jalan, dan untuk industri dilakukan penegakan hukum” tegasnya.

sumber: http://hydro.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Fokus pada topik. Mohon untuk tidak spam. Thanks.